ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Perbandingan Cerita Rakyat Berjudul Bawang Merah dan Bawang Putih dengan Cinderella. Objek penelitian ini adalah cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih dengan Cinderella. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui struktur cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih, (2) untuk mengetahui struktur cerita rakyat Cinderella, (3) untuk mengetahui perbandingan cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih dengan Cinderella.
Hadirnya cerita-cerita modern di masyarakat mempengaruhi eksistensi atau keberadaan cerita rakyat yang ada di masyarakat. Secara perlahan cerita rakyat mulai tergeser seiring dengan perkembangan zaman yang sarat dengan teknologi. Selain teknologi yang menjadi sebab utama pergeseran cerita rakyat di masyarakat sebab lain ialah kurangnya minat dan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian dan pembudayaan sastra lisan yang berbentuk cerita rakyat.
Bawang Merah dan Bawang Putih merupakan cerita rakyat dari Jawa Tengah sedangkan Cinderella merupakan cerita rakyat dari Inggris. Berdasarkan setting tempat dan waktu dalam cerita serta wujud kedua cerita yang merupakan cerita rakyat (biasanya dalam pembuatan cerita rakyat menggunakan setting tempat dan waktu sesuai keadaan zaman pembuatan cerita tersebut) maka dapat diketahui bahwa kedua cerita tidaklah satu zaman. Dilihat dari perkembangan sejarah Inggris yang lebih dulu maju dibandingkan Indonesia maka Cinderella kemungkinan ada lebih dulu daripada cerita Bawang Merah dan Bawang Putih.
Dalam melakukan studi sastra bandingan dilakukan secara diakronis untuk menelusuri genetika teks sastra. Persamaan-persamaan dalam cerita semata-mata bukan karena dibuat pada zaman yang sama maupun mempunyai satu induk cerita tetapi karena masing-masing mempunyai kemampuan untuk menciptakannya dan kebetulan ceritanya hampir sama. Hal ini sesuai dengan Teori Survival Kebudayaan Andrew Lang dapat dimasukkan ke dalam golongan teori poligenesis, karena mempunyai paham yang menganggap bahwa setiap kebudayaan di dunia ini mempunyai kemampuan untuk berevolusi. Oleh karena itu, masing-masing folk mempunyai kemampuan melahirkan unsur-unsur kebudayaan yang sama dalam setiap taraf evolusi yang sama. Jadi, jika sampai ada motif cerita rakyat yang sama dalam beberapa negara, maka hal itu karena masing-masing negara mempunyai kemampuan untuk menciptakannya, baik sendiri maupun sejajar. Dalam mengkaji bandingan kedua teks cerita ini dapat berdasarkan empat asas pokok pembanding, yaitu genetik teks, generik teks, tematik teks, dan kesejajaran teks.
Dari segi genentik kedua cerita ini merupakan cerita rakyat yang menggunakan setting istana sentris yang mengambil latar lingkungan istana. Dalam segi bahasanya, kedua cerita tersebut sangatlah berbeda. Cinderela menggunakan bahasa Inggris sedangkan Bawang Merah dan Bawang Putih menggunakan bahasa Jawa. Hanya saja kedua cerita tersebut telah digubah dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Secara generik kedua cerita tersebut sama-sama bergenre prosa (cerita rakyat).
Secara tematik juga dapat dikatakan hampir sama, yaitu menceritakan kehidupan gadis cantik yang hidup sengsara dan miskin tetapi kehidupannya berubah ketika bertemu jodohnya yang dari keluarga kaya (keluarga kerajaan). Dalam segi kesejajaran teks, kedua cerita tersebut memiliki banyak kesejajaran diantaranya dalam segi judul, tema, alur, karakterisasi/penokohan, setting, dan point of view serta amanat .
Bawang Merah dan Bawang Putih
Bawang Putih adalah gadis yang sudah tidak punya ibu dan bapak. Ia hidup bersama ibu tirinya yang juga punya anak seusia dengannya. Ia selalu dibebani pekerjaan yang berat-berat, misalnya mengambil air dari sumber yang jaraknya cukup jauh. Sementara saudara tirinya yaitu Bawang Merah tidak pernah disuruh bekerja membantu ibunya. Bawang Putih tidak pernah mengeluh.
Bawang Merah setiap hari hanya bersolek. Ia berusaha berdandan sebaik-baiknya. Namun diam-diam ia harus mengakui bahwa Bawang Putih ternyata jauh lebih cantik daripadanya.
Setiap hari Bawang Putih diperintah mencuci pakaian-pakaian kotor yang jumlahnya cukup banyak. Karena kebaikan dan ketulusan hatinya, ada seekor ikan mas ajaib yang membantunya. Melihat pekerjaan berat dapat diselesaikan dalam waktu singkat, si ibu tiri menjadi curiga. Suatu ketika Bawang Merah disuruh mengamati dari jauh siapakah yang membantu pekerjaan Bawang Putih. Bawang Merah kemudian menangkap ikan emas itu tanpa sepengatuan Bawang Putih. Ikan itu dibawa pulang untuk dimasak dan dimakan oleh mereka sehingga yang tinggal hanyalah durinya.
Mereka memberikan sisa ikan itu untuk dimakan oleh Bawang Putih. Tapi Bawang Putih tidak mau memakannya. Ia mengubur duri dan kepala ikan itu di halaman rumahnya. Tak berapa lama tumbuh tanaman bunga yang indah.
Pada suatu hari ada pangeran kerajaan yang melintas di tempat itu. Pangeran tertarik dengan keindahan bunga itu. Bawang Merah mengaku bahwa dialah yang menanamnya.
Pangeran tidak percaya karena sudah tahu siapa sesungguhnya yang menanam bunga itu. Ikan emas yang dulu dimasak oleh ibu tiri dan saudaranya itu sebenarnya adalah jelmaan dari pangeran tersebut. Tak berapa lama kulit ibu dan anak yang itu bersisik. Sementara Bawang Putih diboyong ke istana.
1) Tema
Menceritakan kehidupan gadis cantik yang hidup sengsara dan miskin tetapi kehidupannya berubah ketika bertemu jodohnya yang dari keluarga kaya (keluarga kerajaan).
2) Alur
Alur ceritanya menceritakan kehidupan gadis cantik yang dibenci oleh saudara tirinya. Kemudian karena suatu keadaan (dalam cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, Bawang Putih sering mencuci di kali kemudian dibantu oleh seekor ikan mas yang ternyata jelmaan dari pangeran yang kemudian mempersuntingnya) maka sang gadis tersebut bertemu jodohnya dan kehidupannya yang semula sengsara menjadi bahagia. Demikianlah akhir cerita tersebut, berakhir dengan kebahagiaan tokoh utama yang semula sengsara.
3) Karakterisasi Penokohan
Tokoh Bawang Putih yang sangat baik hati, sabar, rajin bekerja, dan penyayang tetapi selalu dibenci oleh ibu tiri dan saudaranya (Bawang Merah). Tokoh pangeran tampan dan baik hati yang kemudian menyunting Bawang Putih untuk dibawa ke istana.
4) Setting
Setting cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih tersebut menggunakan setting istana sentris atau masa-masa kerajaan. Setting tempatnya sangatlah sedikit, hanya berupa tempat tinggal pangeran, tempat tinggal sang gadis yang disukai pangeran, dan setting perjalanan dari rumah sang gadis menuju ke tempat pangeran.
5) Point of View
Pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga. Disini pengarang bertindak sebagai yang maha tahu.
6) Amanat
Amanat yang bisa diambil dari cerita Bawang Merah dan Bawang Putih yaitu kita harus senantiasa sabar dalam menghadapi cobaan. Kita harus menjadi orang yang baik hati, sabar, penyanyang, jujur, dan suka menolong. Kita janganlah suka iri dan benci serta jahat kepada orang lain, terlebih lagi kepada saudara sendiri.
Cinderela
Di sebuah kerajaan, ada seorang anak perempuan yang cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua kakak tirinya, karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya “Cinderela”. Cinderela artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. “Nama yang cocok buatmu !” kata mereka.
Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana. “Asyik… kita akan pergi dan berdandan secantik-cantiknya. Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira”, kata mereka. Hari yang dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderela mulai berdandan dengan gembira. Cinderela sangat sedih sebab ia tidak diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana. “Baju pun kau tak punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju sepert itu?”, kata kakak Cinderela.
Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderela kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeras-kerasnya karena hatinya sangat kesal. “Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor seperti ini, tapi aku ingin pergi..” Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. “Cinderela, berhentilah menangis.” Ketika Cinderela berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum dengan ramah. “Cinderela bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal.” Setelah semuanya dikumpulkan Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. “Sim salabim!” sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus-tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir, Cinderela berubah menjadi Putri yang cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah.
Karena gembiranya, Cinderela mulai menari berputar-putar dengan sepatu kacanya seperti kupu-kupu. Peri berkata,”Cinderela, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam berhenti. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam. “Ya Nek. Terimakasih,” jawab Cinderela. Kereta kuda emas segera berangkat membawa Cinderela menuju istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderela. Mereka sangat kagum dengan kecantikan Cinderela. “Cantiknya putri itu! Putri dari negara mana ya ?” Tanya mereka. Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderela. “Putri yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?” katanya. “Ya…,” kata Cinderela sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka menari berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan kedua kakak Cinderela yang berada di situ tidak menyangka kalau putri yang cantik itu adalah Cinderela.
Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. “Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini,” kata sang Pangeran. Karena bahagianya, Cinderela lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. “Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,”. Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana. Di tengah jalan, sepatunya terlepas sebelah, tapi Cinderela tidak memperdulikannya, ia terus berlari. Pangeran mengejar Cinderela, tetapi ia kehilangan jejak Cinderela. Di tengah anak tangga, ada sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil sepatu itu. “Aku akan mencarimu,” katanya bertekad dalam hati. Meskipun Cinderela kembali menjadi gadis yang penuh debu, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta.
Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderela. “Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini,” kata para pengawal. Kedua kakak Cinderela mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat Cinderela. “Hai kamu, cobalah sepatu ini,” katanya. Ibu tiri Cinderela menjadi marah,” tidak akan cocok dengan anak ini!”. Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. “Ah! Andalah Putri itu,” seru pengawal gembira. “Cinderela, selamat..,” Cinderela menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya. “Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.,” katanya.
Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun pengantin. “Pengaruh sihir ini tidak akan hilang walau jam berdentang dua belas kali”, kata sang peri. Cinderela diantar oleh tikus-tikus dan burung yang selama ini menjadi temannya. Sesampainya di Istana, Pangeran menyambutnya sambil tersenyum bahagia. Akhirnya Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup berbahagia.
1) Tema
Menceritakan kehidupan gadis cantik yang hidup sengsara dan miskin tetapi kehidupannya berubah ketika bertemu jodohnya yang dari keluarga kaya (keluarga kerajaan).
2) Alur
Alur ceritanya menceritakan kehidupan gadis cantik yang dibenci oleh saudara tirinya. Kemudian karena suatu keadaan (dalam cerita Cinderella, Cinderella pergi ke pesta sebuah kerajaan atas bantuan seorang peri dengan syarat untuk segera pulang sebelum tengah malam. Cinderella lupa atas perintah itu, sehingga ketika jam berdetak menunjukkan bahwa waktunya telah habis, dia terburu pulang namun salah satu sepatunya tertinggal. Pangeran menggunakan sebelah sepatu kaca itu untuk mencari Cinderella yang kemudian dipersuntingnya) maka sang gadis tersebut bertemu jodohnya dan kehidupannya yang semula sengsara menjadi bahagia. Demikianlah akhir cerita tersebut, berakhir dengan kebahagiaan tokoh utama yang semula sengsara.
3) Karakterisasi Penokohan
Tokoh Cinderella yang sangat baik hati, sabar, rajin bekerja, dan penyayang tetapi selalu dibenci oleh ibu tiri dan saudaranya. Tokoh pangeran tampan dan baik hati yang kemudian menyunting Cinderella untuk dibawa ke istana.
4) Setting
Setting cerita rakyat Cinderella tersebut menggunakan setting istana sentris atau masa-masa kerajaan. Setting tempatnya sangatlah sedikit, hanya berupa tempat tinggal pangeran, tempat tinggal sang gadis yang disukai pangeran, dan setting perjalanan dari rumah sang gadis menuju ke tempat pangeran.
5) Point of view
Pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga. Disini pengarang bertindak sebagai yang maha tahu.
6) Amanat
Amanat yang bisa diambil dari cerita Cinderella yaitu kita harus senantiasa sabar dalam menghadapi cobaan. Kita harus menjadi orang yang baik hati, sabar, penyanyang, jujur, dan suka menolong. Kita janganlah suka iri dan benci serta jahat kepada orang lain, terlebih lagi kepada saudara sendiri.
1) Tema
Dari segi tema sangatlah jelas kesejajaran kedua cerita tersebut yaitu menceritakan kehidupan gadis cantik yang hidup sengsara dan miskin tetapi kehidupannya berubah ketika bertemu jodohnya yang dari keluarga kaya (keluarga kerajaan).
2) Alur
Alur kedua cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dengan Cinderella adalah sama. Alur ceritanya menceritakan kehidupan gadis cantik yang dibenci oleh saudara tirinya. Kemudian karena suatu keadaan maka sang gadis tersebut bertemu jodohnya dan kehidupannya yang semula sengsara menjadi bahagia. Demikianlah akhir kedua cerita tersebut, sama-sama berakhir dengan kebahagiaan tokoh utama yang semula sengsara.
3) Karakterisasi Penokohan
Penokohan dalam kedua cerita juga mempunyai dasar yang sama. Ada tokoh pria yang merupakan orang kaya dan tampan yang sedang mencari jodoh. Dalam cerita Cinderela, pangeran dibantu oleh pengawal kerajaan sedangkan dalam Bawang Merah dan Bawang Putih, pangeran menemukan jodohnya sendiri. Tokoh seorang gadis yang sangat baik hati, sabar, dan penyayang (Cinderela dan Bawang Putih) tetapi selalu dibenci oleh ibu dan saudara tirinya. Ada tokoh antagonis yang merupakan saudara tiri jahat yang selalu memusuhi tokoh sang gadis baik hati dan cantik.
4) Setting
Setting kedua cerita rakyat tersebut menggunakan setting istana sentris atau masa-masa kerajaan. Setting tempatnya sangatlah sedikit, hanya berupa tempat inggal pangeran, tempat tinggal sang gadis yang disukai pangeran, dan setting perjalanan dari rumah sang gadis menuju ke tempat pangeran.
5) Point of View
Pengarang kedua cerita menggunakan point of view orang ketiga. Disini pengarang bertindak sebagai yang maha tahu.
6) Amanat
Amanat yang bisa diambil dari kedua cerita sama, yaitu kita harus senantiasa sabar dalam menghadapi cobaan. Kita harus menjadi orang yang baik hati, sabar, penyanyang, jujur, dan suka menolong. Kita janganlah suka iri dan benci serta jahat kepada orang lain, terlebih lagi kepada saudara sendiri.
Berdasarkan analisis data tersebut, penulis mengambil kesimpulan bahwa struktur kedua cerita rakyat tersebut hampir sama. baik itu tema, alur, setting, point of view, penokohan, dan amanat. Persamaan kedua cerita tersebut terletak pada tema, alur, sudut pandang, amanat, dan setting. Perbedaannya terletak pada penokohan yaitu bila dalam cerita Cinderella ada tokoh pengawal istana yang turut membantu pangeran mencari Cinderella (dalam Bawang Merah dan Bawang Putih pangeran pergi sendiri) dan saudara tiri Cinderella yang berjumlah dua orang (dalam Bawang Merah dan Bawang Putih saudara tirinya hanya berjumlah seorang).